Sekilas Info
  • Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti. Merpati sengaja dibangkrutkan.
  • Pahlawan Indonesia –TKI Selamatkan Majikan Di Negara Taiwan
  • Jakarta kebanjiran, ini salah siapa dan ini dosa siapa?
 
Link Terkait

 
Maskapai Penerbangan
 
Statistik
  Pengunjung hari ini : 25
  Total pengunjung : 69481
  Hits hari ini : 49
  Total Hits : 184023
  Pengunjung Online : 1

 
Polling

bagaimana pendapat anda dengan pemberlakuan jam kerja baru?

 sangat setuju

 setuju

 tidak setuju

 sangat tidak setuju

Lihat Hasil Poling

 
  • Senin, 20 Januari 2014 - 09:04:42 WIB
    Stroke
    Diposting oleh : Administrator
    Kategori: KESEHATAN - Dibaca: 2780 kali


    Pendahuluan

    Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama dan sebagai penyebab inkapasitas mendadak dalam penerbangan. Pencegahan stroke dimulai dengan mengenali faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan seperti hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, merokok, penyakit jantung/fibrilasi atrium, dan stenosis arteri karotis asimptomatik. Stroke pada usia muda disebabkan faktor kekentalan darah, paten foramen ovale dan arteriopati. (1,2) Stroke tergolong penyakit serebrovaskuler 75%  disebabkan iskhemik trombotik dan lainnya hemoragik. Iskhemik stroke disebabkan iskhemik arteri karotis externa (skstrakranial) dan arteri serebro medialis (intracranial) dan pembuluh darah kecil (lakunar stroke) pada penderita hipertensi. Stroke yang disebabkan emboli (arteri-arteri atau kardio emboli) adanya TIA Transient Ischaemic Attack), akan menyebabkan Stroke kira-kira 30% dalam 5 tahun. Medical Assesor ikut menentukan status aeromedis bagi aircrew (awak kokpit) dan dapat dipastikan tidak didapatkan defisit neurologi yang menetap. Sehingga perlu

    secara aktif untuk deteksi dini dan pengendalian faktor risiko stroke. (1,2,3)

     

    Stroke Iskhemik

    Didapati stroke iskhemik pada personil penerbangan, maka status aeromedis “Unfit” untuk semua kelas sertifikat medis. Tidak didapatinya defisit neurologi yang bermakna dan faktor risiko dapat diperbaiki serta risiko stroke ulangan dapat diatasi maka perlu pertimbangan resertifikasi (termasuk mengatasi risiko penyakit jantung seperti kelainan arteri karotis). Medical assessor perlu mengetahui mekanisme terjadi stroke dan pengobatan seperti Carotid Endarterectomy, pengobatan hipertensi dan hiperlipidemia dan stabilitas status neurologi. (1)

     

    Status Aeromedis

    Sebelum pemberian sertifikat medis harus diketahui penyebab heterogen stroke, resiko rekurens stroke dan identifikasi faktor resiko seminimal mungkin, Stroke rekurens kan menyebabkan Inkapasitas mendadak. Biasanya diobservasi selama 1 tahun. Stroke pada usia muda sisebabkan oleh Patent Foramen ovale den gan emboli paradoxal. Setelah dilakukan penutupan foramen Ovale dapat dilakukan Resertifikasi setelah 1 tahun. Individu dengan Arterial Dissection dan tidak terjadi rekurens dalam 1 tahun (rekurent biasanya < 10 % pertahun). Stroke lacuna sebagai komplikasi hipertensi pada  pembuluh darah kecil resertifikasi setalah 1 tahun. Sedangkan stroke akibat kelainan Atherotrombotik dengan faktor risiko resertifikasi setelah 2 tahun. (1.2.3)

     

    Stroke Hemorragik

    Kelainan intraserebral, perdarahan parenchyma pada penderitaan hipertensi. Dapat menyebabkan kematian dan cacat yang berat sehingga berpengaruh besar pada status aeromedis. (1) Adanya malformasi vaskuler termasuk Angioma kavernosa dapat menyebabkan pendarahan intraserebral, dengan recovery lengkap. Untuk pemberian sertfikasi medis perlu dilakukan pembedahan sebagai usaha untuk pendarahan ulangan. Adanya resiko kejang maka status aeromedis menjadi “Unfit” .

    Adanya stroke hemoragik maka status aeromedis menjadi “Unfit” semua klas lisens personil penerbangan.

     

    Status Aeromedis

    Stroke Hemoragik status aeromedis menjadi “Unfit” selama 1 sampai 2 tahun. Ditentukan oleh evaluasi status neurologi, recovery yang memuaskan, bebas dari faktor risiko, tidak didapatkan deficit neurologi, dan tidak menggunakan anticoagulant (hipertensi) maka resertifikasi dapat dipertimbangkan. (1.2)

     

    Pendarahan Subarachnoid

    Penyebab terserang pendarahan subarachnoid adalah pecah mendadak dari Aneurisma Sacculus Intrakranial, yang berasal dari arteri di dasar otak (Circulus Willisi) sebagai kelainan bawaan dari dinding otot pembuluh darah dan kelainan

    degenerative lamina elastika interna. Angka kematian 23% dan 50% penderita mengalami cacat yang signifikan. Tindakan pembedahan untuk koreksi aneurisma dan mengalami recovery, tidak ada pembedahan maka dapat dipertimbangkan resertifikasi. Paska pembedahan harus diverifikasi dengan Angiografi pasca pembedahan (DSA … Digital Subtraction Anteriografi). Gejala sisa yang timbul deficit neurologi fokal, kejang dan gangguan kognitip. Adanya hal-hal tersebut maka status aeromedis menjadi “ Unifit” adanya pendarahan subarachnoid primesencepalon atau prepontin risiko rekurens kecil (1.2)

     

    Status Aeromedis

    Status Aeromedis menjadi “Unfit” selama 1 tahun jika pembedahan dapat mengisolasi pendarahan, tidak ada gejala deficit neurologi, dan tidak ada kejang-kejang. Obliterasi parsil aneurisma dengan residual lumen dapat menimbulkan risiko yamg tak terduga. Pendarahan subarachnoid yang tidak  diketahui sebabnya harus diobservasi selama 1 tahun. Adanya malformasi vaskuler (Angioma kavernosa, malformasi arteriovenosa) memerlukan evakuasi spesifik. Malformasi residual, deposit hemosiderin dan faktor lain yang menyebabkan perdarahan ulangan, atau kejang status aeromedis “Unfit” (1.2.3)

     

    Terapi stroke dengan Neuroprotektif (Neulin/ Citicoline)

    Terapi neuroprotektif adalah terapi yang bertujuan menghambat kerusakan seluler, biokimia dan kelainan metabolic yang terjadi pasca iskhemi. Penghambat ini akan mencegah kerusakan jaringan otak lebih lanjut pasca stroke iskhemik akut. Citicoline (cytidine 5 – diphospho-choline). Citicoline digunakan untuk mengurangi kerusakan akibat stroke iskhemik akut mengstabilisasi membrane sel, menurunkan pembentukan radikal bebes, menurunkan pembentukan asam lemak bebas yang dapat menyebabkan toksisitas seluler. Larut dalam air dan cepat diabsorpsi melalui oral. Citicoline dapat memicu proses penyembuhan dengan cara memulihkan kerusakan spingomyelin dan menekankan produksi fosfolipase A2. Pemberian citicoline intravena dosis 1000 mg/hari mampu mempercepat perbaikan kesadaran pasien dengan stroke iskhemik akut. Pengobatan citicoline oral dalam waktu 24 jam pertama pasca stroke iskhemik akut dapat meningkatkan probabilitas kesembuhan dalam 3 bulan pertama (3).

     

    Malformasi Arteriovenosa

    AVM (ArterioVenosa Malformasi) ditandai dengan dilatasi pembuluh darah akibat komunikasi abnormal antara system arterial dan vena. Keadaan ini akibat perkembangan embryo dari pembuluh darah dan bukan akibat tumor, sehingga terjadi priliferasi dan pelebaran pembuluh darah.

    Manifestasi klinis yang dapat terjadi adalah kejang-kejang dan sakit kepala kadang-kadang perdarahan. Perdarahan kecil disebut Malformasi tipe kavernosa, terdapat lesi hemartoma kecil dari ruang sel endotel tanpa mengenai jaringan saraf. Perdarahan akibat AVM akan mengalir keruang subarachnoid gambarannya mirip dengan pecahnya aneurisma sacculus tapi tidak begitu berat. Karena kebanyakan AVM terdapat pada jaringan serebral maka pendarahan yang terjadi intraserebral akan menyebabkan hemiparesis, hemiplegia dan kematian. Keluhan yang umumnya adalah pendarahan dan kejang-kejang.

    Walaupun AVM secara klinis tidak menimbulkan keluhan dalam jangka waktu lama, dan biasanya onset gejala timbul pada usia 10-30 tahun, kadang-kadang diatas usia lebih 50 tahun. Hampir 50% penderita manifestasi klinik pertama adalah perdarahan sereberal subarachnoid, dengan kejang-kejang pertama pada 30% kasus dan 20% kasus mengeluh sakit kepala, hemiparesis progressif dan deficit neurologic fokal pada kasus 10% kasus AVM, perdarahan pertama bisa berakibat fatal tetapi lebih dari 90% kasus bila perdarahannya dapat diatasi, penderita dapat bertahan hidup. Kebanyakan dari mereka tidak ada keluhan sebelum perdarahan atau pecahnya pembuluh darah.

    Banyak dari malformasi ini berhubungan dengan sakit kepala seperti migraine didaerah parietooccipital pada satu hemisphere, dan 2/3 dari penderita ada riwayat keluarga migraine. AVM Huge akan menyebabkan deficit neurologi yang progresif perlahan-lahan akibat kompressi dari struktur akibat pelebaran masa pembuluh daran dan shuting dari darah melalui dilatasi pembuluh vaskuler “intracerebral sereal” dengan akibat hipoperfusi sekitar otak (Homan dkk). Jika v.Galenous melebar sebagai akibat drainase AVM lanjut, dapat menyebabkan hydrocephalus, terutama pada anak-anak. Pada AVM ukuran yang sedang dan luas, maka 1 atau ke 2 arteri karotis akan terlihat pulsasinya di leher dan terdengar bunyi “siskoik bruit” dileher atau di regio mastoideus atau tanda “eyeballs” pada penderita AVM dewasa muda merupakan tanda patognomonik. 90% AVM diketahui CT Scan dengan kontras dan MRI. Arteriografi biasanya untuk memastikan diagnosa dan

     

    Pengobatan

    Pembedahan Excisi, Embolisasi endovascular, tehnik radio surgery dengan  radiasi sinar photon untuk  AVM<3cm dengan obliterasi AVM setelah 18-24 bulan setelah terapi (radiasi sinar photon/tehnik radio surgery). Setelah 2 tahun, 75-80% AVM <2,5 cm akan mengalami obliterasi. AVM yang tidak dapat dieliminasi secara total, efek radiasi akan terlihat dalam waktu lama untuk memproteksi terjadi perdarahan. Untuk AVM yang luas obliterasi akan terlihat terbentuknya rekanalisasi kemudian dapat menyebabkan perdarahan. AVM akan menghilang dengan terapi proton beam dan tidak terjadi perdarahan ulangan sampai lebih 10 tahun. Maruyama dkk melakukan terapi dengan “Focused Gamma Radiation” dengan pisau Cyber dapat menurunkan risiko perdarahan 54% antara waktu radiasi dan terbentuknya obliterasi dan kemudian mencapai 88%. Komplikasi radiasi kira 2-4% adalah nekrosis lambat pasca radiasi dan kongesti vana yang terjadi 2 minggu atau sebukan pasca pengobatan.

    Nekrosis pasca radiasi dapat dikurangi dengan pemberian Steroid tetapi efek vaskuler sulit dicegah secara umum, pengobatan lain dengan cara Teknik Endovaskuler. Pada akhir-akhir ini dilakukan kombinasi pengobatan dengan mengurasi lesi endovaskuler dan diikuti engan pembedahan atau radiasi, terapi kombinasi ini 90% lesi mengalami obliterasi dan risiko perdarahan kembali dalam beberapa tahun sangat kecil. Hal ini ditentukan berdasarkan letak dan ukuran, asal sirkulasi, ada atau tidaknya lesi vaskuler lain (Aneurisma atau AVM tambahan) dan usia penderita. Yang terpenting juga yang merupakan problem primer tidak terjadi kejang susulan, setelah obliterasi karena akan mempengaruhi status aeromedis dan memerlukan obat anti epilepsy selama beberapa tahun. (1,2,3)

    AVM pasca terapi

     by : DR. EDDY ALATAS, MS, SpKP

    Reference :

    1. Adams and Victors “Principles of Neurology: 9th ed,2009

    2. John Ernsting “Aviation Medicine” 3nd ed,2000

    3. Manual of Civil Aviation Medicine, ICAO, Oct, 2008

     



    apa itu Medex dalam tes kesehatan pilot?
  • Galeri Foto